Apa Itu Muharram?: Pelajaran Sabar dan Duka

Dalam tradisi Syiah, Muharram bukan hanya awal dari kalender Islam, tetapi juga menandai periode di mana kita mengingat pengorbanan cucu Nabi Muhammad (SAWW), Imam Hussain. Oleh karena itu, selama bulan ini kaum Syiah mengingat dan meratapi tragedi yang terjadi antara kelompok kecil pengikut Imam Husain (AS) dan Yazid, gubernur tentara besar Suriah.

Namun, ada jauh lebih banyak untuk Muharram dari sekedar kesedihan. Bagi banyak dari kita, tindakan mengingat tahunan berfungsi sebagai tombol reset. Tidak peduli siapa penindasnya, ini berfungsi sebagai pengingat untuk menanamkan nilai kepada orang-orang untuk membela apa yang benar dan berbicara menentang tirani.

Bagi banyak dari kita, tindakan mengingat tahunan berfungsi sebagai tombol reset.

Selain itu, ada makna yang lebih dalam dan pelajaran kesabaran dalam menghadapi ketidakadilan di sepanjang keseluruhan cerita ini. Imam Hussain (AS) tetap bersabar selama perjalanannya ke Karbala dan di medan perang. Bahkan ketika para penindas membunuh anak bungsu Imam, Ali Asghar, yang baru berusia enam bulan, dia memiliki kesabaran untuk menyerahkan urusannya di tangan Allah. Kesabarannya bukanlah tanda kelemahan, melainkan ketabahan dan keberaniannya.

Saat ini, umat Islam menghadapi berbagai tantangan mulai dari prasangka hingga Islamofobia yang pada gilirannya berdampak negatif pada masyarakat kita. Akibatnya, iman kita melemah dan kita terpengaruh oleh ini, baik itu: kemunduran akademis, komplikasi profesional, atau masalah pribadi. Namun, pengalaman Imam Hussain (AS) mengajarkan kita untuk memiliki kesabaran selama masa-masa sulit. Kita belajar untuk tetap tenang dalam menghadapi kesulitan daripada menyerah.

Bahkan melewati pertempuran, diriwayatkan bahwa perempuan dan anak-anak dirantai dan dibawa ke Suriah, di mana mereka dipukuli dan disiksa. Namun, Bibi Zainab (AS), saudara perempuan Imam, tetap setia, merawat anak-anak, dan merawat keponakannya yang sakit sambil terus berkhotbah tentang penindasan yang dialami.

Kesedihan dan sakit hati yang dibawa oleh kehancuran Karbala dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti puisi ratapan, detak ringan dada kita, di beberapa masyarakat, prosesi dan banyak lagi.

Setiap amalan berakar dalam dalam cinta yang kita miliki untuk keluarga Nabi (SAW), dan bagaimana seseorang dapat membatasi bagaimana menunjukkan belas kasih dan kasih sayang seperti itu?

Setiap amalan berakar dalam dalam cinta yang kita miliki untuk keluarga Nabi (SAW), dan bagaimana seseorang dapat membatasi bagaimana menunjukkan belas kasih dan kasih sayang seperti itu dalam satu cara atau definisi? Muharram memungkinkan kita sebagai komunitas untuk meratapi kesulitan yang dialami Imam Hussain (AS) dan keluarganya, sambil juga menawarkan pengalaman dan moral untuk dipelajari.

Sebagai Muslim, kita membaca dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,” tetapi melalui peristiwa-peristiwa seperti tragedi Karbala, kita melihat contoh nyata betapa kuatnya iman kita ketika kita bersabar (Quran, 8: 46). Ketekunan Bibi Zainab (AS) melalui kesulitan ini memungkinkan pengorbanan yang dilakukan Imam Husain untuk dibagikan kepada dunia karena jika dia menyerah, gerakannya akan terlupakan dan sia-sia.

Kesulitan di dunia ini bersifat mikroskopis tetapi tampak seperti akhir dunia. Dengan menggunakan contoh seperti Imam Hussain (AS) dan Bibi Zainab (AS) kita diingatkan bagaimana pengorbanan di dunia ini, mengarah pada pahala yang tak terukur di akhirat. Demikian pula, ketika kita diuji dan begitu dekat untuk melepaskan keyakinan kita, kita harus ingat bahwa kesabaran adalah benar-benar suatu kebajikan, bahwa ketika menghadapi kesengsaraan kita harus tetap sabar sambil mempromosikan kebenaran; sebuah pelajaran bahwa pertempuran Karbala didirikan.