Citayam Fashion Week, Gaya Busana Rp 20 Ribuan Yang Penting

JawaPos.com – Tren Citayam Fashion Week di Dukuh Atas, Sudirman, menjadi viral terinspirasi dari pekan mode dunia. Anak-anak muda yang berasal dari Citayam dan Bojong Gede pinggiran ibukota Jakarta itu bergaya dengan busana mereka dengan melintasi zebra cross. Menurut Kritikus Mode Sonny Muchlison, setiap orang memiliki selera dan gaya dalam berbusana.

saat anak-anak muda di Citayam Fashion Week bergaya dengan sesuai gaya mereka, itu adalah sebuah kebebasan dalam berbusana. Baginya, semua pilihan mereka harus diapresiasi. Tak lagi harus konsep brand atau harga dalam berbusana, Citayam Fashion Week menjadi bentuk atau sisi lain dari kebebasan berekspresi dalam berbusana.

“Kita apresiasi ya gaya busana mereka. Dengan model apa adanya dari mereka, bisa bergaya itu saya apresiasi,” tulisnya kepada JawaPos.comSenin (25/7).

Masyarakat berkumpul saat menyaksikan fashion week di Dukuh Atas, Jakarta, Jumat (22/7). Tempat ini sekarang jadi lokasi nongkrong para pemuda yang sering disebut bocah Sudirman, Citayam, Depok, dan Bojonggede atau SCBD. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

Menurutnya, Citayam Fashion Week tidak akan memikirkan lagi apakah itu barang KW atau kebalikan membeli di Tanah Abang atau pasar lainnya, yang penting adalah bergaya. Ia berharap semua pihak jangan memanfaatkan ajang ini.

“Mau harga berapa, mau KW, enggak pakai dipikirin lagi. Yang penting mereka bisa bergaya. Harus bisa. Mau pakai sepatu Rp 15 ribu, celana Rp 20 ribu, sebisa mungkin pakai dan gaya. Dan itu kita hargai sebagai upaya seorang ingin berpenampilan. Berpakaian itu kan hak asasi manusia,” ungkapnya.

Mengapa mereka bergaya bukan di Citayam atau wilayah Depok? Menurut Sonny, anak-anak muda yang berasal dari pinggiran ibu kota tentu ingin melihat suasana yang berbeda. Salah satu-satunya adalah latar belakang perkotaan yang tidak hanya menampilkan layanan. Didukung dengan kemudahan dan akses media sosial, maka ini menjadi viral.

“Ya gak apa-apa. Ini kebebasan berkreasi dan berekspresi. Aksesnya mudah, sebagian ada yang putus sekolah, mereka datang karena media sosial. Sesederhana itu,” tutupnya.