Meningkatnya Popularitas Busana Muslim

Meningkatnya Popularitas Busana Muslim: Iman atau Fashion?

Meningkatnya Popularitas Busana Muslim: Abstrak

Busana Muslim, juga dikenal sebagai “Pakaian Sederhana” adalah gaya berpakaian khusus untuk wanita yang menganut agama Islam. Secara tradisional, pakaian ini telah dipraktikkan oleh wanita sebagai bagian dari kewajiban iman mereka. Menariknya, dekade terakhir telah terlihat peningkatan popularitas pakaian Muslim di semua kelompok umur wanita tidak hanya sebagai bagian dari agama mereka, tetapi juga sebagai bagian dari pernyataan mode mereka. Fokus utama dari makalah ini adalah untuk mempelajari pendapat konsumen tentang pakaian Muslim dan kekuatan yang mendasarinya yang mendorong kebangkitannya di pasar global. Makalah ini bersifat eksploratif dan deskriptif. Sampel dipilih dari wanita Bangladesh berusia 13 hingga 65 tahun yang sudah mengenakan pakaian Muslim. Penelitian ini melakukan wawancara mendalam utama pada 10 wanita untuk mendapatkan perspektif tentang faktor-faktor pendorong di balik meningkatnya ketertarikan terhadap pakaian Muslim. Tahap kedua penelitian melakukan survei pada 150 wanita dengan bantuan kuesioner terstruktur pada 14 variabel untuk mengeksplorasi sudut pandang mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “kewajiban agama”, “kecantikan” dan “pengaruh para pemimpin opini” memiliki hubungan positif dengan semakin populernya busana muslim.

Target Indonesia Menjadi Islamic Fashion Capital pada 2020

Popularitas hijab dan busana muslim di Indonesia sedang naik daun. Semakin banyak wanita Indonesia yang mengenakan kerudung atau jilbab di pasar berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Pakaian Muslim telah berevolusi dari gerakan agama dan budaya menjadi tren fashion dan industri yang berkembang pesat.

Meningkatnya permintaan busana muslim mendorong pertumbuhan industri busana muslim di dalam negeri. Dalam waktu yang relatif singkat, busana muslim telah menjadi segmen penting dalam industri tekstil nasional (Lihat Industri Tekstil Indonesia – Waktu Pengujian Hulu). Sektor ini telah berubah dari asalnya di industri rumah tangga dan usaha kecil dan menengah (UKM) dan menjadi manufaktur skala besar saat ini.
Evolusi hijab di Indonesia

Sebelum era Orde Baru, wanita muslimah di Indonesia menggunakan selendang panjang untuk menutupi rambut secara longgar. Sejak tahun 1980-an jilbab atau cadar yang menutup rapat rambut mulai diperkenalkan ke Indonesia. Namun, penggunaan cadar di sekolah umum dan lembaga pemerintah untuk sementara dibatasi oleh pemerintahan Soeharto; meskipun hal ini tidak menyurutkan sebagian besar umat Islam Indonesia untuk menjalankan apa yang mereka rasa sebagai kewajiban agama mereka. Meningkatnya jumlah wanita yang berhijab di Indonesia telah melahirkan industri pakaian muslim yang menggiurkan. Sejak awal tahun 2000, sektor ini telah berkembang pesat seiring dengan semakin banyaknya wanita muda perkotaan yang menggunakan hijab. Segmen baru yang sadar akan mode ini menuntut pakaian Muslim yang tidak hanya menutupi rambut dan tubuh, tetapi juga menampilkan gaya dan desain yang menarik.

Untuk memenuhi permintaan ini, sejumlah desainer muda kreatif yang mampu merancang busana muslim yang modis dan trendi muncul. Ini termasuk bintang yang sedang naik daun seperti Ms Dian Pelangi yang dinobatkan sebagai salah satu dari 500 orang paling berpengaruh di industri fashion oleh majalah Business of Fashion yang berbasis di Inggris. Bahkan, sejumlah tokoh mapan di industri fashion lokal seperti Mr Itang Yunasz telah pindah ke desain pakaian muslim dan telah memanfaatkan ceruk pasar yang berkembang pesat ini. Busana Islami di Indonesia juga tidak lagi hanya terfokus pada pelanggan wanita tetapi juga membidik pelanggan pria dengan diluncurkannya lini pakaian koko atau taqwa.
Pasar dan pelanggan yang berkembang

Pasar hijab di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga segmen; pertama, kerudung sederhana dan praktis digunakan oleh 60-70% wanita Indonesia. Kerudung ini dijual dalam berbagai warna dan model dengan harga terjangkau; kedua, jilbab syariah yang digunakan oleh 10% wanita Indonesia. Jenis kerudung ini lebih panjang dan tersedia dalam warna konservatif seperti putih, hitam dan coklat; terakhir, kerudung modis yang digunakan oleh wanita kelas menengah perkotaan yang datang dalam berbagai warna dan gaya dan dijual dengan harga premium.

Pasar hijab Indonesia masih didominasi model kerudung praktis dan simpel yang dibandrol dengan harga di bawah Rp 50.000 untuk jilbab dan di bawah Rp 200.000 untuk gaun. Meskipun margin keuntungannya rendah, permintaan dan volume penjualannya tinggi yang membuat segmen ini sangat menguntungkan. Sebaliknya, hijab fashionable yang dijual di atas harga Rp 200.000 bahkan hingga jutaan rupiah relatif terbatas namun menawarkan margin keuntungan yang tinggi. Peluang pasar produk hijab di Indonesia masih terbuka lebar, baik untuk segmen low-end maupun high-end karena relatif sedikitnya pemain di sektor ini. Selain itu, permintaan akan produk hijab modis kelas atas tidak hanya terbatas pada pasar domestik tetapi juga pasar regional dan internasional mengingat semakin menonjolnya Indonesia sebagai pusat mode Islami.

Toko pakaian Muslim juga dapat ditemukan di pasar tradisional serta mal modern dengan Tanah Abang dan Kota Thamrin secara bertahap menjadi pusat grosir pakaian Islami, menarik pemilik toko dari seluruh negeri mencari barang-barang terbaru untuk dijual di toko mereka. Ada juga toko butik yang membidik konsumen kelas atas dengan merek seperti Shafira, Zara, dan Rabbani, antara lain. Selain itu, dengan meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia, situs e-commerce yang menawarkan pakaian Islami menjamur dengan merek seperti Zoya, Hijup, Hijabenka dan Elhijab, menawarkan portofolio produk yang beragam untuk semua segmen konsumen. Pemasaran online yang digabungkan dengan skema reseller dan dropship menawarkan biaya operasional yang lebih rendah dan dapat menjangkau khalayak yang lebih luas karena tidak adanya kendala geografis. Dengan demikian, busana muslim telah menjadi komoditas yang sangat dicari dan industri yang berkembang pesat di Indonesia.

Data Kementerian Perindustrian Indonesia mengungkapkan bahwa sekitar 80% produk pakaian muslim dijual di pasar domestik, sedangkan 20% sisanya diekspor (Lihat Sektor Garmen dan Tekstil Indonesia; Kesengsaraan Jangka Pendek). Pada tahun 2015, ekspor busana muslim Indonesia mencapai $4,57 miliar USD atau sekitar Rp58,5 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2014 sebesar $4,63 miliar USD dengan tren pertumbuhan ekspor sebesar 2,30%.

Menurut data BPS (2013), jumlah perusahaan yang bergerak di bidang fashion mencapai 1.107.955 unit. Sekitar 10% dari mereka adalah perusahaan besar, 20% adalah perusahaan menengah dan 70% adalah perusahaan kecil (Lihat UKM Indonesia: Peningkatan Dukungan Pemerintah untuk Mengatasi Tantangan). dari ini

e 750.000 UKM yang bergerak di bidang sandang di Indonesia, sekitar 30% di antaranya merupakan produsen busana muslim, dengan perusahaan besar menempati 40%, sedangkan usaha kecil dan menengah masing-masing menguasai 30% pasar.

Hijup, misalnya, kini memiliki 200 desainer dan basis pelanggan yang terus bertambah di 100 negara. Dengan pertumbuhan omset tahunan lima kali lipat, startup baru-baru ini menerima pendanaan awal dari investor global ternama yang mencakup 500 Startups, Fenox Venture Capital, dan Skystar Capital dan telah dimasukkan dalam program Google Developers Launchpad Accelerator. Pada Februari 2016, atas undangan British Council, Hijup memamerkan produknya di London Fashion Week.

Peritel pakaian muslim lainnya yang berkembang pesat, Elhijab, kini memiliki lebih dari 184 gerai ritel di seluruh Indonesia. Melalui pengembangan platform e-commerce, Elhijab telah berhasil membangun mereknya secara nasional dan internasional dan memasuki pasar ekspor di Eropa Barat termasuk Inggris dan Prancis serta Amerika Serikat dan Timur Tengah.

Ke depan, ekspor busana muslim Indonesia akan difokuskan pada pasar tak jenuh seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Inggris, Australia, Kanada, UEA, Belgia, dan China.
Meningkatnya persaingan

Meski mengalami kemajuan yang signifikan, industri busana muslim Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Daya saing produknya masih rendah karena efisiensi yang buruk dan skalabilitas yang rendah. Tantangan lain yang dihadapi oleh industri pakaian Islam di tanah air termasuk kurangnya pembiayaan (Lihat Tinjauan Sektor Keuangan Mikro Indonesia: Komponen Utama untuk Pertumbuhan Berkelanjutan), preferensi budaya, dan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara menegakkan prinsip-prinsip Islam dan mengikuti tren mode global terbaru.

Sementara itu, pesaing utama produk hijab kelas atas adalah produsen dari negara-negara ASEAN, terutama Malaysia dan Thailand (Lihat Indonesia dan Masyarakat Ekonomi ASEAN – Siap untuk Integrasi Regional?). Yang terakhir, sebagai salah satu produsen tekstil utama di Asia Tenggara, bertujuan untuk menjadikan Bangkok sebagai pusat industri pakaian muslim. Industri busana Islami Thailand sebagian besar terletak di provinsi selatan yang didominasi Muslim, dengan sekitar 80% produknya diekspor ke Malaysia sebelum diekspor kembali ke berbagai negara dengan omset tahunan sekitar $28 juta USD.

Malaysia adalah pesaing terbesar Indonesia di segmen hijab modis. Produsen dan pengecer hijab di tanah air sudah lebih dulu memulai pemasaran dengan memanfaatkan platform e-commerce dan media sosial; khususnya Instagram, untuk memasarkan produknya. Salah satu brand hijab Malaysia yang sukses mengglobal adalah Naelofar. Pada tahun 2015, perusahaan milik keluarga tersebut berhasil mencatatkan penjualan sebesar $11,8 juta USD. Brand unggulan lainnya adalah Mimpikita yang diundang untuk memamerkan produknya di London Fashion Week tahun 2015.

Pesaing utama produk hijab kelas bawah adalah China yang menawarkan produk lebih murah (Lihat Apa Arti Perlambatan China bagi Indonesia: Perspektif Perdagangan). Hal ini penting karena pelanggan domestik cenderung memprioritaskan harga daripada kualitas yang mendorong penjual hijab untuk menjual kembali produk Cina daripada membantu mengembangkan produk lokal. Selain itu, semakin populernya jilbab di Indonesia dan negara lain telah memikat pengecer dan desainer dari negara-negara non-Muslim untuk meluncurkan lini pakaian muslim sendiri. Peritel Jepang, Uniqlo, misalnya, menyewa fashion blogger Muslim populer, Ms Hana Tajima, untuk merancang lini pakaian Muslim untuk merek mereka.

Pada bulan September, model Inggris Mariah Idrissi menjadi wanita pertama yang mengenakan jilbab untuk membintangi iklan H&M; pengecer pakaian terbesar kedua di dunia. Pada tahun 2014, DKNY meluncurkan koleksi Ramadhan dan merek barat lainnya seperti Tommy Hilfiger dan Mango telah mengikuti dengan menjual pakaian Muslim selama Ramadhan.
Menuju Ibukota Fashion Islami Global

Menurut laporan oleh Thomson Reuters dan Dinar Standard dalam Global Islamic Economy Report, 1,6 miliar konsumen Muslim dunia menghabiskan $266 miliar USD untuk pakaian pada 2013, dan diproyeksikan menghabiskan $484 miliar USD pada 2019. Negara-negara Muslim dengan konsumsi pakaian tertinggi adalah Turki sebesar $25 miliar USD, diikuti oleh Iran sebesar $21 miliar USD, Indonesia sebesar $17 miliar USD, Mesir sebesar $16 miliar USD, dan Arab Saudi sebesar $15 miliar USD, berdasarkan data tahun 2012. Ini mengecualikan Muslim di Eropa Barat (Jerman, Prancis, Inggris) dan Amerika Utara yang secara kolektif menghabiskan sekitar $21 miliar USD untuk pakaian dan alas kaki pada tahun 2012. Secara kolektif, pasar konsumen pakaian Muslim hanya berada di urutan kedua setelah pasar terbesar di dunia – Amerika Serikat, dengan pengeluaran $494 miliar USD.

Sedangkan produsen dan eksportir pakaian terbesar dalam Organisasi Kerjasama Islam adalah Bangladesh, Turki, Indonesia, Maroko, dan Pakistan. Sejauh ini, terlepas dari potensi pasarnya yang besar, tidak ada satu merek pakaian muslim pun yang berdiri

d yang mampu menjadi pemain global karena fragmentasi pasar dan perbedaan preferensi budaya.

Indonesia menargetkan menjadi ibu kota mode busana muslim global pada 2020. Menurut Wakil Menteri Koperasi dan UKM Emilia Suhaimi, target tersebut tercapai karena hijab Indonesia unik dan lebih beragam dibandingkan dengan hijab negara lain. Selain itu, industri ini didukung oleh pasokan sumber daya manusia yang kreatif dan warisan budaya yang kaya (Lihat Produk Warisan & Ekonomi Kreatif Indonesia – A Wealth of Opportunities). Untuk menunjukkan dukungannya, pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan untuk menetapkan kode HS standar untuk pakaian Islami.

Indonesia secara rutin menyelenggarakan peragaan busana Islami tahunan untuk membantu mempromosikan industri pakaian muslim dalam negeri di tingkat internasional. Acara tersebut antara lain Indonesian Muslim Fashion Week, International Indonesian Islamic Fashion Fair, dan Muslim Fashion Festival Indonesia 2016. Selain itu, pemerintah Indonesia juga mendorong perancang busana muslim lokal untuk berpartisipasi dalam pameran di luar negeri untuk memperkenalkan merek mereka kepada pelanggan global. Gabungan upaya-upaya ini membuat Indonesia menjadi pesaing kuat untuk menjadi pusat mode Islami global. Desain jilbab yang beragam di negara ini juga menempatkannya pada posisi yang kuat untuk mengumpulkan daya tarik internasional pada saat penting ini ketika mode Islami tumbuh dengan pesat baik di pasar negara berkembang maupun di antara komunitas Muslim di negara maju.