Sumber Daya Alam

Perempuan dan Akses Sumber Daya Alam di NTT

Perempuan dan Akses Sumber Daya Alam di NTT : Kupang- Menuju “Hari Lingkungan Hidup Sedunia” pada 5 Juni 2022, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT melihat ada begitu banyak persoalan lingkungan hidup yang secara langsung berdampak pada perempuan di NTT.

Gerakan kaum perempuan dalam upaya pelestarian lingkungan perlu diperkuat kembali oleh semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat luas dalam konteks perlindungannya. Kita tidak bisa lagi membiarkan perempuan menjadi korban dari kebijakan pembangunan yang merusak lingkungan dan ekosistemnya. Persoalan lingkungan di NTT kini sudah masuk pada fase kritis. Perlu adanya pemulihan ekosistem.

Ekofeminisme

Istilah ekofeminisme pertama kali digunakan oleh Francoise D’Eaubonne pada tahun 1974 melalui karyanya “ Le Feminisme ou la Mort”, selanjutnya pada tahun 1987 istilah ini kembali dipopulerkan oleh Karen J. Warren melalui “Feminism and Ecology: Making Conection” yang berusaha untuk menunjukan hubungan antara semua bentuk penindasan manusia, khususnya perempuan dan alam. Namun, Maria Mies dan Vandana Shiva 1998 yang berhasil melakukan rekonstruksi pandangan prinsip ekologi dan feminism dalam melawan ketidakadilan terhadap kaum perempuan.

Akumulasi dari krisis lingkungan yang memicu perubahan iklim menjadi persoalan besar masyarakat di NTT, kita ketahui bahwa pada tahun 2021 NTT dilanda badai siklon seroja yang memporak-porandakan kehidupan dan lingkungan. Tentu saja perempuan paling rentan bencana, namun luput dari kebijakan. Seringkali kurang dilibatkan dalam pengambilan kebijakan penagnggulangan bencana.

Di tengah krisis lingkungan dan meningkatnya konflik sumber daya alam di Indonesia, posisi perempuan semakin rentan dalam lingkungan dan kehidupan sosial. Banyak perempuan yang mengalami dampak akibat krisis lingkungan. Padahal pelestaraian lingkungan hidup selama ini terjadi justru melalui gerakan lokal yang dimulai dari komunitas-komunitas masyarakat adat dan perempuan, lewat menenun, menaman pohon, merawat serta melakukan berbagai ritual yang berkaitan dengan kehidupan pertanian semuanya dalam rangkaian filosofi alam.

Namun, ironisnya keberadaan perempuan adat sebagai penjaga ekosistem lingkungan di NTT masih belum dijamin dengan baik.

Bagaimana peran perempuan dalam pelestarian lingkungan hidup 

Peran perempuan dalam pelestaarian lingkungan masih mengalami pasang surut, masih banyak kaum perempuan mengalami tindakan diskriminasi yang membuat perempuan kesulitan untuk maju dan berkembang.

Ketika muncul konsep ekofeminime, telah membuka pemahaman kita bahwa sudah saatnya ruang terhadap perempauan dalam segala aspek diberikan baik dalam sosial, budaya, ekonomi, politik dan pengelolaan lingkungan hidup. Dalam feminisme ada satu gerakan yang namanya ekofeminisme ini adalah gerakan yang melihat hubungan antara eksploitasi serta degredasi lingkungan hidup terhadap perempuan.